Update Wabah Mematikan Guncang India, Pakistan-Vietnam Beri Respons

Waspada Virus Nipah: Pakistan dan Vietnam Perketat Perbatasan Usai Temuan Kasus di India

ISLAMABAD – Gelombang kewaspadaan terhadap ancaman epidemi baru kini tengah menyelimuti kawasan Asia. Pakistan resmi menjadi negara terbaru yang memperketat protokol kesehatan di seluruh pintu masuk negara. Langkah drastis ini diambil menyusul konfirmasi dua kasus positif Virus Nipah (NiV) di India yang memicu kekhawatiran akan penyebaran lintas batas.

Pakistan

Pengetatan di Pintu Masuk: Pakistan dan Vietnam Siaga Satu

Departemen Layanan Kesehatan Perbatasan Pakistan menginstruksikan pemeriksaan ketat terhadap setiap individu yang memasuki wilayahnya. Meski hubungan diplomatik dan mobilitas antara Pakistan dan India sedang berada di titik terendah pasca-konflik Mei 2025, otoritas tidak ingin mengambil risiko.

“Sangat penting untuk memperkuat langkah-langkah pencegahan dan pengawasan di perbatasan Pakistan,” tulis pernyataan resmi Departemen Layanan Kesehatan Perbatasan (29/1/2026).

Skema pemeriksaan mencakup:

  • Pemindaian Suhu Tubuh: Berlaku di bandara, pelabuhan, dan perbatasan darat.

  • Penilaian Klinis: Pemeriksaan fisik bagi pelancong dengan gejala mencurigakan.

  • Tracing 21 Hari: Kewajiban melaporkan riwayat perjalanan selama tiga minggu terakhir untuk mendeteksi transit di area berisiko tinggi.

Langkah serupa juga menggema di Vietnam. Otoritas di Hanoi dan Ho Chi Minh City telah mengerahkan pemindai suhu tubuh di Bandara Internasional Noi Bai, khususnya bagi penumpang yang memiliki riwayat perjalanan dari Benggala Barat, India.


Mengenal Virus Nipah: Mengapa Dunia Begitu Khawatir?

Virus Nipah bukanlah ancaman baru, namun tetap menjadi salah satu yang paling mematikan. Berdasarkan data WHO, virus yang bersumber dari kelelawar buah (Pteropodidae) ini memiliki karakteristik yang mengkhawatirkan:

  1. Tingkat Kematian Tinggi: Mencapai 40% hingga 75%, jauh lebih tinggi dibandingkan COVID-19.

  2. Gejala Berat: Mulai dari demam, sakit kepala, hingga peradangan otak (ensefalitis) yang fatal.

  3. Belum Ada Vaksin: Hingga saat ini, belum ada vaksin atau pengobatan spesifik yang disetujui secara global.

Update Kondisi di India

Kementerian Kesehatan India melaporkan telah melacak 196 orang yang melakukan kontak erat dengan dua pasien terkonfirmasi di Benggala Barat. Kabar baiknya, hingga saat ini seluruh kontak erat dinyatakan negatif dan tidak menunjukkan gejala. India, khususnya wilayah Kerala dan Benggala Barat, memang dikenal sebagai zona panas (hotspot) Nipah karena interaksi tinggi antara manusia dan habitat kelelawar.


Topik Menarik: Mengapa Nipah Menjadi “Ancaman Pandemi Berikutnya”?

Selain berita utama di atas, berikut adalah beberapa poin krusial yang perlu diperhatikan terkait fenomena ini:

  • Daftar Patogen Prioritas WHO: Nipah masuk dalam daftar pendek patogen yang berpotensi menyebabkan pandemi global karena kemampuan mutasinya dan tingginya angka fatalitas.

  • Dampak Perubahan Iklim: Para ahli meyakini hilangnya habitat kelelawar akibat deforestasi memaksa hewan tersebut mendekat ke pemukiman manusia, meningkatkan risiko “spillover” atau lompatan virus dari hewan ke manusia.

  • Perlombaan Vaksin CEPI: Koalisi untuk Inovasi Kesiapan Epidemi (CEPI) tengah mendanai berbagai riset. Hingga Desember 2025, tercatat sudah ada 750 kasus global dengan 415 kematian. Keberhasilan uji coba vaksin dalam waktu dekat menjadi tumpuan harapan dunia.


Tips Pencegahan untuk Pelancong

Bagi Anda yang merencanakan perjalanan internasional di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara:

  1. Hindari kontak dengan kelelawar atau babi yang sakit.

  2. Jangan mengonsumsi buah yang tampak bekas gigitan hewan.

  3. Hindari meminum nira/air pohon kurma mentah yang berisiko terkontaminasi urin kelelawar.

  4. Selalu gunakan masker dan cuci tangan di area publik yang padat.

dewilanjar.com

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*