Laut Luas Tapi Ikan Masih ‘Grade C’, Agrinas Jaladri Ungkap Tantangan Besar Perikanan RI
JAKARTA – Indonesia merupakan negara kepulauan dengan luas wilayah perairan mencapai dua per tiga dari total luas wilayahnya. Namun, potensi besar ini dinilai belum tergarap optimal. PT Agrinas Jaladri Nusantara (Persero) menyoroti sejumlah masalah fundamental yang menghambat sektor perikanan nasional bersaing di kancah global.
Dalam acara Media Gathering dan Buka Bersama pada Kamis (13/3/2026), Direktur Utama Agrinas Jaladri Nusantara, Kharisma Febriansyah, mengungkapkan fakta mengejutkan mengenai kualitas tangkapan ikan di dalam negeri yang mayoritas masih berada di level rendah.
Kapal Kayu dan Rendahnya Kualitas Tangkapan
Salah satu penghambat utama produktivitas nelayan adalah infrastruktur. Kharisma membeberkan bahwa hampir 90% kapal nelayan di Indonesia masih berbahan kayu. Kondisi ini sangat membatasi ruang gerak nelayan untuk menangkap ikan berkualitas tinggi di perairan jauh.
“Sayangnya, pemanfaatan perikanan Indonesia belum optimal karena hampir 90% kapal nelayan di Indonesia terbuat dari kayu, sehingga para nelayan cukup sulit untuk menangkap ikan dengan kualitas yang tinggi,” ujar Kharisma.
Dampaknya terasa pada klasifikasi hasil tangkapan. Saat ini, konsumsi ikan dalam negeri mayoritas masih berada di Grade C. Sementara itu, ikan kualitas Grade A (kualitas premium) hampir seluruhnya dialokasikan untuk komoditas ekspor.
Isu Kesejahteraan dan “Perbudakan” di Laut
Tak hanya soal armada, Agrinas Jaladri juga menyoroti sisi kemanusiaan dan Sumber Daya Manusia (SDM). Isu kesejahteraan nelayan yang rendah memicu munculnya masalah sosial yang lebih gelap, yakni isu perbudakan di atas kapal.
“Mengapa ada isu perbudakan? Karena mereka tidak memiliki tempat tinggal yang layak dan bayarannya pasti kecil untuk para awak kapal,” tegas Kharisma. Hal ini menunjukkan bahwa penguatan sektor perikanan tidak bisa hanya fokus pada aspek bisnis, tetapi juga harus menyentuh sisi kemanusiaan dan kelayakan hidup para pelaut.
Strategi “From Ocean Potential to National Strength”
Mendukung visi Presiden Prabowo Subianto, Agrinas Jaladri berkomitmen membangun ekosistem perikanan yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Konsep ini mencakup:
-
Modernisasi Penangkapan: Memperbaiki kualitas armada kapal.
-
Budidaya & Pengolahan: Meningkatkan nilai tambah produk perikanan.
-
Sistem Logistik: Menjamin rantai pasok yang efisien agar kualitas ikan tetap terjaga hingga ke tangan konsumen.
Direktur Strategi, Bisnis, dan Manajemen Risiko Agrinas Jaladri, Puput Prihadi, menambahkan bahwa sinergi antar-stakeholder adalah kunci. “Kami percaya potensi sumber daya perikanan Indonesia dapat dikelola secara optimal melalui pendekatan yang terintegrasi dan berkelanjutan,” tutupnya.
Intisari Berita (Highlights)
-
Paradoks Maritim: Indonesia memiliki 2/3 wilayah laut, namun 90% nelayan masih menggunakan kapal kayu tradisional.
-
Kesenjangan Kualitas: Ikan konsumsi domestik masih didominasi Grade C, sedangkan Grade A menjadi eksklusivitas pasar ekspor.
-
Krisis SDM: Rendahnya upah dan fasilitas memicu isu perbudakan di sektor perikanan.
-
Visi Baru: Agrinas Jaladri mendorong konsep “From Ocean Potential to National Strength” untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.
Topik Pembahasan Menarik (Diskusi Lanjutan)
-
Transformasi Teknologi: Bagaimana skema pembiayaan yang tepat agar nelayan kecil bisa beralih dari kapal kayu ke kapal modern (fiberglass/baja)?
-
Keadilan Pangan: Haruskah pemerintah membuat regulasi agar ikan Grade A lebih mudah dan murah diakses oleh masyarakat lokal untuk memperbaiki gizi nasional?
-
Sertifikasi Tenaga Kerja: Langkah konkret apa yang perlu diambil untuk menghapus stigma “perbudakan” dan memberikan perlindungan hukum bagi awak kapal perikanan?









